Jejak Cangaan

Dari aliran sungai, tumbuh sebuah desa.

Ingatan masyarakat menghubungkan kelahiran Cangaan dengan perjalanan Kyro Yudo, kehidupan tepian sungai, dan tumbuhnya pusat ibadah serta perdagangan.

Kyro Yudo dan awal kisah yang diwariskan masyarakat.

Menurut cerita masyarakat, sekitar abad ke-18 seorang prajurit Pangeran Diponegoro bernama Kyro Yudo menyusuri Bengawan Solo dan menetap di wilayah yang kemudian dikenal sebagai Desa Cangaan.

Kyro Yudo mendirikan surau di tengah desa. Seiring waktu, surau tersebut berkembang menjadi Masjid Jami' Nurul Huda yang diyakini sebagai salah satu masjid tertua di Kabupaten Bojonegoro.

Pada masa kolonial, Cangaan dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan tembakau. Jejak arsitektur Belanda dan Tionghoa masih hidup dalam ingatan ruang desa.

1700-an

Kedatangan Kyro Yudo

Awal kisah pembentukan permukiman dan surau di wilayah Cangaan.

1911

Catatan kepemimpinan

Riwayat kepala desa yang tersedia dimulai pada masa Beeyong.

Hari ini

Warisan yang tetap hidup

Sejarah, masjid, pangan lokal, dan Bengawan Solo menjadi bagian dari identitas desa.

Riwayat kepala desa

1911–1935Beeyong
1936–1958H. Subkan
1959–1970Sudjak
1971–1990H. Affandi
1991–1998Mungid
1999–2007Shodiq
2008–2020H. Djamil
2020–sekarangImam Subendi