
DesaCangaan
Profil desa, potensi, dan kehidupan masyarakat di Kecamatan Kanor, Bojonegoro.
01Profil desa
Tumbuh di tepian
Bengawan Solo.
Cangaan menyimpan kisah pergerakan, perdagangan, dan kehidupan beragama yang tumbuh bersama aliran sungai.
Menurut cerita masyarakat, sekitar abad ke-18 seorang prajurit Pangeran Diponegoro bernama Kyro Yudo menyusuri Bengawan Solo dan menetap di wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Cangaan.
Kyro Yudo kemudian mendirikan sebuah surau di tengah desa. Seiring waktu, surau itu berkembang menjadi Masjid Jami' Nurul Huda, yang diyakini sebagai salah satu masjid tertua di Kabupaten Bojonegoro.
Ketika Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, berkunjung ke Bojonegoro, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro diceritakan pernah meminjam permadani milik Masjid Jami' Nurul Huda untuk mendukung acara penyambutan.
Pada masa kolonial, Cangaan juga dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan tembakau. Jejak arsitektur Belanda dan Tionghoa masih menjadi bagian dari ingatan ruang desa hingga hari ini.
02Cangaan dalam angka
Kecil dalam luas.
Besar dalam hidup.
Komposisi penduduk
Penduduk menurut kelompok umur yang tersedia
Rentang umur pada dokumen sumber tersedia untuk usia 5–54 tahun.
03Arah pembangunan
“Membangun tata kelola pemerintahan desa yang baik, bersih, transparan, dan akuntabel guna mewujudkan kehidupan masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera.”
Misi desa
Langkah bersama untuk pelayanan, kemandirian, dan kesejahteraan warga.
- 01
Melanjutkan program pembangunan desa yang belum terlaksana secara optimal.
- 02
Menjembatani kepentingan dan aspirasi masyarakat dalam proses pembangunan desa.
- 03
Mendukung program kepemilikan sertifikat tanah melalui PTSL maupun program sejenis.
- 04
Mengupayakan fasilitas mobil kesehatan untuk meningkatkan pelayanan masyarakat.
- 05
Mewujudkan pemerintahan desa yang terbuka, transparan, dan akuntabel.
- 06
Mendorong partisipasi masyarakat sejak perencanaan hingga evaluasi pembangunan.
04Potensi desa
Yang tumbuh dari
tanah dan ingatan.
Pertanian
Padi menjadi komoditas utama dan mata pencaharian sebagian besar warga.
Kedekatan dengan Bengawan Solo mendukung ketersediaan air. Petani masih menghadapi tantangan pemasaran karena harga jual sering ditentukan tengkulak, sehingga penguatan irigasi, kelembagaan petani, dan akses informasi harga menjadi peluang pengembangan berikutnya.UMKM pangan
Jenang Angas dan Ladu tumbuh sebagai produk khas yang dikelola masyarakat.
Produk olahan pangan lokal serta usaha makanan dan minuman, seperti pentol dan es kelapa muda, dapat dikembangkan melalui inovasi kemasan, pemasaran digital, dan perluasan pasar.Sejarah & religi
Masjid Jami' Nurul Huda menjadi penanda sejarah dan identitas Cangaan.
Masjid ini diyakini sebagai salah satu yang tertua di Bojonegoro. Bersama kisah Kyro Yudo, warisan tersebut membuka peluang wisata edukasi sejarah dan religi, meskipun belum berkembang sebagai destinasi wisata utama.Bengawan Solo
Lanskap tepian sungai menyimpan potensi wisata berbasis alam dan edukasi.
Pengembangannya memerlukan sarana yang memadai, pengelolaan lingkungan, dan keterlibatan warga agar tumbuh secara berkelanjutan.Budaya masyarakat
Gotong royong, pengajian rutin, dan tradisi warga tetap hidup dalam keseharian desa.
Kisah Kyro Yudo dan keberadaan Masjid Jami' Nurul Huda turut menjadi warisan budaya bernilai historis bagi masyarakat Cangaan.Dua nama yang berpotensi tumbuh menjadi identitas pangan khas Desa Cangaan.
05Pemerintahan
Delapan pemimpin.
Satu desa.
Riwayat kepala desa
Perangkat Desa Cangaan
06Fasilitas umum
Ruang bersama,
untuk semua.
Fasilitas dasar menopang pendidikan, kesehatan, ibadah, pelayanan, dan pergerakan warga sehari-hari.